Kamis, 03 Mei 2012

KEHIDUAN ISTRI MUJAHID

Kehidupan Isteri yang mujahidah
Kalau pada point sebelumnya dibeberkan tentang kehidupan isteri dari
isteri mujahid , maka pada point ini dibicarakan tentang isteri yang
mujahidah dalam artian wanita itupun benar benar terlibat dan terjun
langsung dalam kancah perjuangan sebagaimana halnya suaminya
[mujahidah isteri mujahid].
Seorang mujahidah bukan sekedar mendampingi suaminya yang mujahid
saja, namun dia sendiri adalah pejuang Islam, sama seperti suaminya !
mereka bahu membahu dengan suami menunaikan tugas di medan jihad.
Isteri yang begini sama berdayung dengan suaminya dalam melayarkan
bahtera rumah tangga, juga sama berdayung dengan suaminya dalam
melayarkan bahtera perjuangan.
Bila mereka bisa membangun saling pengertian, saling bahu membahu
dalam rumah tangga, saling membagi waktu untuk semua itu. Inilah isteri
yang paling harapan, bukan hanya harapan suami dan anak-anaknya, tapi
harapan keseluruhan front perjuangan Islam.
Seluruh problem perjuangan yang dipikul suaminya, sang isteri mengerti
pula. Hingga bila suatu sa'at suaminya berhalangan, maka sang isteri
mampu membuatnya tidak terbengkalai, mampu menggantikan dan
melanjutkannya tanpa tersendat [tentu dalam batas-batas yang dibenarkan
syari'at bagi wanita Islam].
Adakalanya isteri yang pejuang itu lebih hebat dan lebih tangguh dari
suaminya, lihatlah seperti Jendral Pejuang Tentara Islam di Aceh, Chut
Nya' Dien. Atau Nashibah tentara Islam semasa Rosululloh, resapi biograpi
para wanita pejuang Islam, agar jiwa kita hidup pula karenanya.
Maka itu, isteri yang mujahidah harus tahu betul mengatur waktu untuk
perjuangan, untuk mendapat tambahan nafkah, karena biaya hidup
keluarga mujahid, walaupun tidak mewah relatif lebih besar dari pada yang
non mujahid, sebab ia pun mesti menyediakan dana sendiri untuk biaya
perjuangannya, tidak hanya mengandalkan kas perjuangan.
Juga untuk pekerjaan rumah tangga seperti masak, mencuci, mengasuh
anak. menata rumah tangga dsb. Itu tak boleh hanya dipikul isterinya
secara sefihak, sebagaimana ia turut berjuang seperti suaminya di medan
jihad, maka suami yang mujahid harus terlibat pula membantu tunainya
tugas sang isteri di rumahnya. Terlalu berat kalau isteri yang mujahidah
tadi, disamping berjuang di luar, harus pula 100 persen menyelesaikan
sendiri segala sesuatunya dirumah.
Apalagi kalau saudara perjuangan datang bertamu untuk satu keperluan,
jauh malam hari dan belum makan, janganlah suami hanya menunggu
atau memaksa sang isteri untuk menyiapkan makanan. Sang suami harus
mampu menyiapkannya dengan tak mengusik isteri yang mungkin sudah
lelah di siang hari dengan tugas juangnya.
Sebab jangan lupa, bagaimanapun pada umumnya, apalagi isteri yang
aktif dalam perjuangan, pekerjaannya lebih berat dan banyak di banding
suaminya. Siapa yang menganggap bahwa pekerjaan isteri itu lebih enteng
dan tak terlalu melelahkan dari pada kerja sang suaminya, jadi bukti bahwa
ia sebenarnya tak begitu telaten memperhatikan keluarganya.
Sikap menganggap isteri sebagai budak belian, sangat tidak pantas
dilakukan seorang mujahid. Wanita Islam terlalu mulia untuk dipandang
sebagai pemuas syahwat, apalagi disetarakan dengan budak belian, ia
dengan ketaqwaannya mesti dipandang sebagai mitra jihad, yang
dengannya kita bahu membahu menunaikan tugas juang ini. Di bawah
pengawasan Alloh Pemegang Komando Tertinggi Front Sabilillah.
Memandang rendah isteri bukanlah kepribadian mujahid, begitu pula
memandang rendah suami bukan akhlaq wanita pejuang Islam
[mujahidah].
Setiap mujahid mesti mendorong dan mendukung setiap kegiatan positif
dari isterinya untuk maju ke gelanggang, sesuai dengan kemampuan yang
ada, dalam batas batas syari'at yang dijunjung tinggi. Bahkan suami harus
terus menerus meningkatkan daya mampu dan peranan isterinya di
gelanggang perjuangan.
Dalam rumah tangga yang begini, timbullah sikap saling melayani, saling
membantu, saling mendorong untuk kemajuan, saling bersyukur atas
suksesnya karir masing masing.
Bila perlu, bila isteri pulang dari tugas juang [berdakwah, silaturrahmi dsb]
nampak lelah dan capai, sang suami harus dengan lega hati dan bangga
menyiapkan makanan untuk isterinya yang pulang jihad, membawakan
minum baginya.
Jadi bukan hanya sang suami yang harus dilayani di waktu mereka sedang
lelah dan pulang tugas, sang isteri pun harus dan wajar bila diperlakukan
sama.
Bagi seorang mujahidah , mestilah cermat menggunakan waktunya secara
effektif, jangan semuanya dihabiskan di dapur, jangan bertele tele dalam
mengatur dapur, yang serba ringkas saja, cekatan, dan sederhana. Jangan
dibiasakan menghabiskan waktu berlarut larut di dapur. Dari pagi hingga
siang, bahkan sore hari cuma melingkar di dapur dengan berbagai resep
kue kue kaum kapitalis, ini bukan cara ke dapurnya pejuang Islam !
Pakailah waktu sesederhana mungkin dengan memasak yang seringkas
ringkasnya, sebab suasana perjuangan meminta anda untuk menyediakan
waktu lebih banyak lagi.
Begitu juga dengan mencuci pakaian,jangan ditumpuk banyak-banyak, apa
yang perlu dicuci itu hari, jangan ditunda sampai esok. Kalau perlu setiap
mandi, cicillah cucian anda. Baik sang isteri, suami maupun anak-anak
yang mulai berangkat besar.
Sudah makan langsung cuci piring, jangan sampai tunggu dua tiga jam
baru dicuci, supaya tidak jadi repot,karena tugas gerak juang meminta
waktu lebih banyak lagi.
Begitulah sedikit gambaran wanita pejuang Islam, dan pengaturan rumah
tangga dalam keluarga mujahid.
Biasakanlah mendiskusikan setiap problema dengan isteri kita yang juga
pejuang itu, guna menambah pengalaman dan pengertian ke dua belah
pihak dalam perjuangan.
Dengan begini isteri benar-benar merasa diperlakukan sebagai mitra jihad,
bukan sebagai budak belian, yang hanya diperintah, dimarahi, dibentak,
apalagi dipukul. Kalau begini caranya, jadi tidak jelas, mana yang sedang
dimusuhi dan mana kerabat kerja perjuangan. Cara-cara negatif,
memperbudak, atau menghina isteri bukanlah kepribadian mujahid sejati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar